Kenaikan Harga Plat Baja Mengerek Harga Kapal

Kenaikan harga plat baja sebagai komponen kapal sejak tahun lalu menambah faktor kelesuan permintaan karena turut mengerek harga kapal. Untuk itu, PAL melakukan beberapa upaya, salah satunya dengan menjalin kerja sama jangka panjang dengan mengikat harga saat berada di level rendah.

“Dulu sebelum harga minyak dunia turun, permintaan kapal niaga di PAL sebesar 60% dan 40% merupakan kapal perang. Sekarang berbalik, 80% kapal perang dan 20% kapal niaga,” tuturnya.

PT PAL Indonesia (Persero) menargetkan lebih banyak pesanan masuk dari Afrika seiring ditandatanganinya komitmen pembelian oleh A.D Trade Belgium.

Direktur Utama PAL Budiman Saleh menuturkan pihaknya saat ini akan langsung bekerja melengkapi persyaratan sehingga kontrak segera efektif.

Kapal yang akan dikerjakan oleh PAL yakni jenis Offshore Patrol Vessel dengan ukuran 60 meter. Meski sudah mendapatkan komitmen, Budiman belum bersedia menyebutkan besaran kontrak yang didapatkan maupun negara yang membeli produksi PAL.

“Nama negara tidak disebutkan dulu sampai dengan kontrak efektif,” tambahnya.

Budiman menyampaikan pemesanan dari Afrika ini merupakan bagian dari strategi PAL. Pembeli juga merupakan relasi lama saat dirinya masih mengabdi untuk PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Dalam kesempatan terpisah, dia mengungkapkan saat ini bisnis terbesar perusahaan masih berasal dari pesanan kapal untuk kebutuhan militer. Pesanan militer juga membuat pelanggan asing mempercayai produk PAL.

“Pemakai atau user pertama adalah Kementerian Pertahanan sehingga customer asing pun akan confident untuk memakai produk PAL,” sebut Budiman.

Sejak tahun lalu, PAL mengerjakan satu Landing Platform Deck (LPD), satu Kapal Cepat Rudal (KCR), satu kapal selam, upgrade kapal Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Malahayati, upgrade KRI Sampari & Tombak.

Sementara itu, tahun ini diperkirakan akan terdapat pekerjaan tambahan pemeliharaan dan perbaikan KRI yang terdiri dari empat kapal cepat rudal, dua PKR, tambahan kapal selam, kapal buru ranjau, kapal Offshore Patrol Vessel, dan pemeliharaan perbaikan rutin.

Selain itu, perseroan juga berupaya meningkatkan pekerjaan untuk produk non militer. Pekerjaan yang sedang dilakukan meliputi produksi alat pembangkit listrik untuk onshore maupun offshore, pengerjaan kapal niaga dalam negeri, dan meningkatkan penetrasi ke pasar internasional.

Director of Shipbuilding PAL Indonesia Turitan Indaryo menyebutkan tantangan industri perkapalan saat ini yakni kecendrungan pengguna membeli kapal bekas.

 

Sumber: Bisnis.com, JAKARTA

Sejarah Penemuan Stainless Steel


Stainless steel adalah material yang mengandung senyawa besi dan setidaknya 10,5% Kromium untuk mencegah proses korosi (pengkaratan logam). Kemampuan tahan karat diperoleh dari terbentuknya lapisan film oksida kromium yang menghalangi proses oksidasi besi (Fe).

Stainless steel bukanlah baja biasa karena mempunyai keunggulan keunggulan yang tidak dimiliki oleh logam lain. Selain tahan terhadap karat yang menjadi keunggulan utama, stainless steel juga memiliki beberapa keunggulan yaitu :

  • Tahan terhadap perubahan suhu meskipun diluar ruangan
  • Mudah difabrikasi,
  • Logam ini juga mudah untuk dimodifikasi guna berbagai kepentingan, berbahan Kuat, Estetik dan Higienis.
  • Logam tahan karat sehingga dapat tahan lebih lama dan ini juga berarti efisiensi biaya perawatan)

Penemu Stainless Steel

Penemu stainless steel adalah seorang yang bernama Harry Brearley. Harry Brearley (1871 – 1948) dikenal sebagai penemu logam yang biasa disebut stainless steel. Brearley sejak kecil sudah akrab dengan dunia yang berhubungan dengan industri baja, ayahnya adalah seorang pekerja di suatu pabrik baja.
Pada usia 12 tahun, Brearley sudah bekerja di pabrik baja tempat ayahnya bekerja. Setelah itu, karena kepintarannya ia menjadi asisten di laboratorium kimia, sehingga semakin mengerti tentang ilmu logam dan senyawa.
Brearley juga sempat belajar ke pabrik di luar negeri untuk memperdalam ilmu dan wawasannya tentang ilmu logam. Pada tahun 1908, dua pabrik baja besar di Sheffield (Inggris) setuju untuk membiayai laboratorium riset umum, yaitu Brown Firth Research Laboratories. Di laboratorium tersebut, Brearley muda memimpin proyek riset umum tersebut. Pada tahun 1912, laboratorium Brown Firth Research Laboratories meneliti daya tahan karat laras senapan, masalahnya adalah baja yang terdapat pada laras senapan tersebut tidak tahan dengan suhu tinggi dan mulai mudah karat. Belajar dari insiden tersebut, Brearley akhirnya mulai menguji penambahan kandungan kromium ke baja untuk mengurangi proses pengaratan. Penelitian ini berfokus pada penghitungan sejumlah tingkat karbon, kromium, dan besi yang diberikan. Dari hasil eksperimen tersebut, minimal diperlukan 12% kromium agar besi bisa tahan akan karat.

Dari eksperimen yang dilakukan Brearley akhirnya terlihat bahwa ukuran atom pada unsur kromium dan oksidanya, ternyata sama persis sehingga bisa menutup rapat satu sama lainnya di permukaan besi. Jika permukaan besi itu tergurat, secara otomatis lapisan passive film ( tabir kasat mata hasil kromium jika terpapar oksigen )
akan langsung terbentuk kembali untuk melindung permukaan besi dari oksidasi karat. Akhirnya tepat di tanggal 13 Agustus tahun 1913, stainless steel pertama diproduksi di laboratorium Brown-Firth berkat hasil eksperimen dari Brearley. Oleh karena itulah Harry Brearley dianggap sebagai penemu Stainless Steel. Hingga akhirnya si penemu stainless steel Harry Brearley meninggal di daerah Torquay, Inggris, Britania Raya pada usia 77 tahun tertanggal pada 14 Juli 1948.

 

Sekrup Tulang Antibakteri

Sekrup Tulang Antibakteri

14_fclamp3mm1

Lima mahasiswa Unair dari Jurusan Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berhasil membuat inovasi penelitian sekrup tulang antibakteri.

Penelitian yang berjudul Biodegradable Bone Screw Anti-Bakteri Berbasis Komposit Nano Hidroksiapatit Poly (1,8 Octadienol-Co- Citrate) ini mendapat dana hibah dari Dirjen Dikti.

Selama ini, penanganan kasus patah tulang dengan melakukan fiksasi internal tulang menggunakan sekrup dan plat berbasis logam, yakni platina dan stainstess steel.

Penggunaan kedua bahan ini dinilai memiliki beberapa kendala. Salah satunya, meskipun logam platina memiliki sifat mekanik yang baik, harganya relatif mahal. Sementara, penggunaan stainless steel dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan korosi yang membahayakan tubuh.

Selain itu, metode ini dinilai kurang efektif karena sekrup dan plat yang digunakan harus diambil setelah tulang tersambung kembali. Pengambilan sekrup ini menyisakan lubang pada tulang dan biasanya menimbulkan masalah baru.

Ketua tim penelitian, Imroatus, menjelaskan, sekrup tersebut terbuat dari nanohidroksiapatit [Ca 10 (PO4) 6 (OH) 2 ] dan POC [Poly (1,8- octanediol-co- citrate)].

Material ini dipilih sebagai kandidat biodegradable bone screw karena POC memiliki sifat nontoksik, biokompatibel, biodegradable, sintesisnya relatif mudah, dan meningkatkan sifat mekanik.

Sedangkan nanohidroksiapatit berfungsi sebagai filler karena kompatibel terhadap jaringan tulang. Kemudian kitosan sebagai coating yang bersifat anti-bakteri melalui kelompok amino bermuatan positif yang mengikat muatan negatif membran bakteri.

Hasil dari karakterisari sekrup tulang ini memiliki kekerasan 1482,68 MPa, sehingga sudah di atas kekerasan tulang manusia yakni 150-664 MPa dan kekuatan tekan sebesar 8,14 MPa sesuai dengan kuat tekan tulang cancellous antara 2-12 MPa.

Melalui uji antibakteri, bahan kitosan sebagai coating ini ditemukan mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus di sekitar luka. ”Keunggulan dari sekrup ini di antaranya, biodegradable karena setelah tulang terfiksasi, sekrup akan terdegradasi dalam sistem metabolisme tubuh, sehingga tidak perlu dilakukan pengambilan kembali,” jelasnya melalui siaran pers, Selasa (14/6).

Ia berharap, proposal PKM tersebut bisa lolos PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ke-29 di IPB.

 

[Referensi: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/16/06/14/o8ra6q284-mahasiswa-unair-kembangkan-sekrup-tulang-antibakteri ]

Harga Baja Stavax

Stavax Plastic Mould Steel

Characteristic

A through-hardening premium stainless mold steel with very good corrosion resistance and excellent polishability.
Stavax is an excellent choice for small to medium size tools where corrosion in production is unacceptable and where the requirements for good hygiene are high.

Standard

AISI – 420
DIN – 1.2083
JIS – SUS420J2
GB – T1220-2007
W-Nr – 1.2083

Equivalent

Standard
Assab
Bohler
Edelstahl
Buderus
Thyssen
Hitachi
DIN
JIS
AISI
1.2083
SUS
420 J2
420
Stavax
M310
2083
2083
HPM38
1.2085
420+S
M304
21
MnCr 5
1.2162
Prexi
M100
2162
1.2311
P20
518
W330
2311
iso BM
2311
1.2312
P20+S
Holdax
M200
2312
2312
1.2316
RaMaxS
M300
2316
1.2738
P20+Ni
Impax
2738

Availability

Roundbar: 10mm – 220mm
Flat: 10mm – 100mm

Chemical Composition

Type C Cr Mn Si S P Ni V
Stavac 0.38 13.60 0.50 0.90 0.03 0.30
AISI 420 0.26-0.40 12.00-14.00 1.00 1.00 0.03 0.04 0.30
HPM38 0.38 13.60 0.50 0.75 0.03 P Ni 0.30

Mechanical Properties

Properties Stavax
Tensile Strength, Rm (MPa) 1780
Yield Strength, Rp (MPa) 1460
Elongation in 2″ (%)
Hardness (HRc) 45-52
Reduction of Area (%)
Charpy V-notch Impact Strength (toughness):
Longitudinal (ft/lb)
Transverse (ft/lb)

Physical Properties AISI 420

Properties Stavax
Density (×1000 kg/m3) 7.64
Modulus of elasticity (GPa) 200
Thermal conductivity (100oC) [W/m.K] 24.9
Specific Heat (J/Kg.C) 460
Coefficient of thermal expansion 11.4×10-6

Hardness

Hardened & Tempered: 45 ~ 52HRC

Heat Treatment

Preheating:
600-850 ° 100 (1110-1560 ° F)Normally a minimum of Two preheating steps required.

Austenitizing:
100 ° 1000-1025 (1830 -1880 ° C) 1020 House usually 100 ° (1870 ° C). For a very large  Mould 1000 100 ° (1830 ° C) Recommended it.

Annealing: 
Protect the steel and heat through to 740 ° C(1365 ° F). Then cool in the furnace at 15 ° C (30 ° F)per hour to 550 ° C (1020 ° F), then freely in air.

Stress relieving: 
After rough machining the tool should be heated through to 650 ° C (1200 ° C), holding time 2 hours.Cool slowly to 500 ° C (930 ° F), then freely in air.

Tempering: 
Tempering at 250-300 ° C (480-570 ° F) results in the best combination of toughness, hardness and corrosion resistance.Holding time at that temperature is minimum 2 hours. HOWEVER, for very large molds  it is recommended to use a high tempering temperature to Reduce the residual stresses to a minimum.

Quenching:  
Interrupted oil to below 1000F (540C). Air cool to 150F (65C). Salt bath at 250–550°C, then cool in Airblast.

Applications

For all type of moulds, especially suited for larger tools where corrosion in production is unacceptable and where high surface finish is required
Molding of corrosive plastics such as PVC, Acetates and for molds that runs under humid working and storage condition, Molding of medical components such as syringes and analysis vials,etc.

Reference:
http://metal.beyond-steel.com/2012/01/jual-sus420j2-3cr13-thyssenkrupp2083-hitachi-hpm38-bohler-m310/

HQ Steel Properties

bf5e0-s45c-bar

Beyond-steel suplier besi dan baja industri di Jakarta telah berpengalaman dalam melayani dan memenuhi kebutuhan banyak industri besar di Indonesia, melalui penyediaan produk-produk baja yang berkualitas tinggi seperti tool steel, machinery Steel, Wear Plate dan Stainless Steel, dan juga berbagai jenis welding and Cutting Machine yang dengan teknologi terkini serta sekaligus memberikan pelayanan purna jualnya. Teknologi vacuum degassing, ultrasonic test dan proses after heat treatment membuat produk baja Beyond-steel Indonesia lebih unggul dalam berbagai hal.

Dalam pemilihan material baja, faktor daya tahan dan kekuatan menjadi pertimbangan utama pelaku industri sawit. Kebutuhan konsumen ini dapat dibaca perusahaan dengan sangat baik sehingga dapat bersaing dengan produk lain. Beyond-steel Indonesia menyediakan lima tipe produk baja antara lain HQ Machinery Steel,Beyond-steel Rotor Bar Induction Steel (TRIS), Stainless Steel, Tool Steel dan Wear Plate.

Mugiyono Mayar, Managing Direktur Beyond-steel menjelaskan, produk HQ Machinery Steel yang telah melewati kondisi “after heat treatment” sehingga memiliki kemampuan berbeda dengan material baja pada umumnya. Produk ini terbagi atas HQ 7 Series dan HQ 8 Series. Khusus HQ 8 Series, produk bagian dari pengembangan HQ 7 Series lewat penambahan teknologi Vacuum Degassing (VD) dan peeling untuk menyeragamkan struktur dan menghilangkan cacat pada permukaan. Selain itu, HQ seri 8 diperkuat dengan teknologi Non Destructive Test (Ultrasonic Test) yang berfungsi untuk memastikan tidak adanya cacat pada bagian dalam material baja, sehingga adanya teknologi-teknologi tersebut mampu memperpanjang daya tahan produk ini.

Regional director Beyond-steel, menjelaskan HQ 705/HQ 805 digunakan di shaft thresher (memisahkan buah dengan tandan) dan shaft press (pemeras buah sawit).

Sementara itu, TRIS adalah material yang ditujukan bagi aplikasi rotor bar dan stator bar di unit ripple mill (penghancur cangkang). Produk ini ditambahkan dengan proses metalurgi yang membuat umur pakai TRIS di atas 1.000 jam.

Mugiyono menjelaskan produk Stainless Steel SF003 bagian dari kelompok grade Feritik Stainless Steel yang mempunyai kekuatan tinggi, tahan korosi atmoster, dan tahan abrasif. Berbeda dengan produk baja lain yang dipentingkan hanya tahan korosi saja padahal di pabrik kelapa sawit terdapat banyak material-material yang bersifat abrasif. SF003 dapat dipakai sebagai material liner sterilizer, crude oil tank, CST, Sludge Tank, dan aplikasi plate Stainless Steel.

Menurut mugiyono, tanki CPO sekarang lebih banyak memakai stainless steel 3Cr12 karena dahulu memakai mild steel yang lebih bersifat korosif.

Untuk wear plate menggunakan teknologi Oil Quench yang menghasilkan kekerasan tinggi dengan berbagai grade. Dengan menggunakan teknologi TRIP Technology yang membuat produk baja kekerasannya dapat disesuaikan dengan tingkat beban, karena memiliki kandungan micro carbide. Produk ini terdiri dari TwRS 430 XT (kekerasan 360 BHN as supplied, memiliki kemampuan work hardened hingga 430 BHN), TwRS 540 XT ( kekerasan 470 BHN as supplied, memiliki kemampuan work hardenend sampai 540 BHN). Produk ini diaplikasikan kepada screw dan liner CBC, liner cyclon, dan Blade ID Fan.

Mugiyono menjelaskan material baja Beyond-steel memiliki keunggulan dari aspek proses pembuatan baja yang berpengaruh kepada kualitas baja yang dihasilkan. Tambahan proses ini akan menambah umur pakai dari spare part di pabrik sawit yang memakai produk tadi. Sebagai contoh, produk HQ 705 dan HQ 709 mempunyai kandungan unsur cromium-nickel-molybdenum & cromium-molybdenum yang memiliki sifat mampu keras dan berkekuatan baik, HQ 7210 dengan kandungan unsur cromium-nickel merupakan case hardening steel yang diaplikasikan sebagai pembuat gear, dan HQ 805 serta HQ 809 berada pada kondisi peeled, grain size terkontrol, dan lolos uji ultrasonik.

Mugiyono mengatakan keunggulan baja machinery steel yakni tidak adanya tegangan sisa yang dapat menyebabkan cacat. Selain itu, kemampuan material dapat ditingkatkan karena kekerasan baja dapat meningkat sampai 32 HRC (Hardness Rockwell-C).

Dalam menyakinkan konsumen, lanjut Mugiyono, Beyond-steel Indonesia seringkali melakukan uji lapangan di perusahaan perkebunan kelapa sawit seperti Astra Agro dan Medco Agro. Sebagai contoh, material HQ705/805 diujikan sebagai bahan shaft press selama 6.000 jam.

“Uji coba ini sangat penting karena produk yang kami jual bersifat scientific supaya menyakinkan konsumen,” papar Rudy kepada Besibaja Industri.

Menurut Mugy, banyak bagian dari pabrik kelapa sawit yang menggunakan material baja Beyond-steel Austenite. Sebut saja perusahaan perkebunan kelapa sawit seperti Wilmar Grup, Astra Agro, PT PP London Sumatera Tbk, dan Duta Palma Grup. Lalu beberapa kontraktor perusahaan perkebunan sawit seperti PT Eracipta Binakarya, PT Duta Marga, dan PT Pancakarsa Bangun Reksa.

Dalam pelayanan purna jual, konsumen tetap dibimbing untuk menggunakan produk baja Beyond-steel. Selain itu, terdapat in house training kepada konsumen yang biasanya diberikan informasi mengenai karakter serta jenis baja secara global, melakukan inspeksi terhadap material baja.

Konsumen diberikan pula sertifikat untuk mengetahui rekam jejak material baja tersebut. Mugi menambahkan sertifikat ini berguna memberikan kelengkapan identitas material baja yang disesuaikan standar internasional. Untuk itulah, kualitas material baja yang diharapkan sesuai dengan keinginan konsumen dan paling utama menghemat biaya perawatan.