2 Juta Batang Besi Beton China Non SNI Disita

 

Kementerian Perdagangan mengamankan 2 juta batang besi beton yang tidak memiliki Standar Nasional Indonesia, di Balaraja, Banten. Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono menjelaskan produk besi beton yang diamankan ini terdiri atas berbagai merek dan ukuran hasil Produksi PT SS. Pengamanan produk ini merupakan hasil pengembangan dan pemeriksaan dari kegiatan pengawasan Kemendag.

Besi beton yang diamankan tidak memiliki sertifikasi produk pengguna tanda SNI (SPPT SNI) serta tidak memiliki nomor registrasi produk (NRP). Sehingga patut diduga besi beton ini tidak memenuhi persyaratan SNI dan hasil uji temuan di lapangan tidak memenuhi persyaratan SNI dan hasil uji temuan di lapangan tidak memenuhi persyaratan SNI. Imbasnya dapat menimbulkan kerugian bagi konsumen,” kata dai di lokasi penyitaan di Pabrik Baja Tulang di Balaraja, Kamis (24/5/2018)

Sebelumnya juga di Makasar Sulawesi Selatan Kemendag juga mengamankan 351.000 batang besi beton dari berbagai merek dan ukuran di Gudang CV SMM. Hasil Pengujian menyimpulkan produk tersebut tidak memenuhi persyaratan SNI 07-2052-2002 tidak memiliki SPPT SNI serta tidak memiliki NRP. Nilai total dari sitaan yang dilakukan Kemendag ini mencapai Rp 70 miliar.

“Kami akan koordinasi dengan Kementerian Perindustruian mengenai hal ini, karena ini juga terkait investasi di dalam negeri. Memang besi beton ini diproduksi di dalam negeri dan untuk kepentingan dalam negeri, tapi ini investornya dari China. jadi harus kita koordinasikan, permasalahannya bukan mereka bisa produksi besi beton dan merek, tapi mereka juga produksi untuk distributor besi beton tertentu dan itu harus ada suratnya,” kata dia .

Dia menjelaskan para pelaku usaha ini diduga melanggar dua pasal yaitu pasal 8 ayat (1) A Undang undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan pasal 57 ayat (2) undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan

 

Sumber: Detik Finance

Tongkang GMS MT 6 Batam Ditemukan Di Perairan Aceh Singkil

 

Nelayan Pulau Banyak, Aceh Singkil, Sabtu (21/4/2018) kemarin, menemukan sebuah tongkang berukuran panjang 75 Meter dan lebar 25 meter.

Tongkang saat ditemukan, terapung-apung sekitar 21 mil dari Pulau Ujung Batu, Kepulauan Banyak, Aceh Singkil.

Menurut laporan Antaruddin, Panglima Laot Pulau Banyak, Ahad (22/4/2018) kepada wartawan, setelah tongkang yang di lambungnya bertuliskan GMS MT 6 Batam itu ditemukan nelayan, pihaknya bersama anggota Polsek Pulau Banyak berangkat ke lokasi untuk memastikannya.

Setelah sampai dilokasi jelas Antaruddin, mereka menemukan tongkang tanpa awak dan terlihat sudah usang, tidak terawat.

“Ada tongkang besar terapung-apung di wilayah Pulau Ujung Batu. Dalam tongkang tak ada orang dan kondisinya pun sudah usang, tidak terawat,” jelas Antaruddin.

Bahkan, di seputar badan tongkang tambah Antruddin, sudah tumbuh pohon kayu setinggi dua meter dan rumput yang lebat.

Menurut pihaknya, tongkang yang terbuat dari plat besi itu sudah lama hanyut dan terapung di laut, diperkirakan 4-5 bulan lebih.

Sebagai langkah penyelamatan, panglima laut Pulau Banyak sudah menarik dan menambatkan tongkang tak bertuan itu di Pulau Balai.

Sampai berita ini ditayangkan belum ada pihak yang mengaku sebagai pemilik tongkang

 

 

Sumber: www.acehtrend.co

Kenaikan Harga Plat Baja Mengerek Harga Kapal

Kenaikan harga plat baja sebagai komponen kapal sejak tahun lalu menambah faktor kelesuan permintaan karena turut mengerek harga kapal. Untuk itu, PAL melakukan beberapa upaya, salah satunya dengan menjalin kerja sama jangka panjang dengan mengikat harga saat berada di level rendah.

“Dulu sebelum harga minyak dunia turun, permintaan kapal niaga di PAL sebesar 60% dan 40% merupakan kapal perang. Sekarang berbalik, 80% kapal perang dan 20% kapal niaga,” tuturnya.

PT PAL Indonesia (Persero) menargetkan lebih banyak pesanan masuk dari Afrika seiring ditandatanganinya komitmen pembelian oleh A.D Trade Belgium.

Direktur Utama PAL Budiman Saleh menuturkan pihaknya saat ini akan langsung bekerja melengkapi persyaratan sehingga kontrak segera efektif.

Kapal yang akan dikerjakan oleh PAL yakni jenis Offshore Patrol Vessel dengan ukuran 60 meter. Meski sudah mendapatkan komitmen, Budiman belum bersedia menyebutkan besaran kontrak yang didapatkan maupun negara yang membeli produksi PAL.

“Nama negara tidak disebutkan dulu sampai dengan kontrak efektif,” tambahnya.

Budiman menyampaikan pemesanan dari Afrika ini merupakan bagian dari strategi PAL. Pembeli juga merupakan relasi lama saat dirinya masih mengabdi untuk PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Dalam kesempatan terpisah, dia mengungkapkan saat ini bisnis terbesar perusahaan masih berasal dari pesanan kapal untuk kebutuhan militer. Pesanan militer juga membuat pelanggan asing mempercayai produk PAL.

“Pemakai atau user pertama adalah Kementerian Pertahanan sehingga customer asing pun akan confident untuk memakai produk PAL,” sebut Budiman.

Sejak tahun lalu, PAL mengerjakan satu Landing Platform Deck (LPD), satu Kapal Cepat Rudal (KCR), satu kapal selam, upgrade kapal Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Malahayati, upgrade KRI Sampari & Tombak.

Sementara itu, tahun ini diperkirakan akan terdapat pekerjaan tambahan pemeliharaan dan perbaikan KRI yang terdiri dari empat kapal cepat rudal, dua PKR, tambahan kapal selam, kapal buru ranjau, kapal Offshore Patrol Vessel, dan pemeliharaan perbaikan rutin.

Selain itu, perseroan juga berupaya meningkatkan pekerjaan untuk produk non militer. Pekerjaan yang sedang dilakukan meliputi produksi alat pembangkit listrik untuk onshore maupun offshore, pengerjaan kapal niaga dalam negeri, dan meningkatkan penetrasi ke pasar internasional.

Director of Shipbuilding PAL Indonesia Turitan Indaryo menyebutkan tantangan industri perkapalan saat ini yakni kecendrungan pengguna membeli kapal bekas.

 

Sumber: Bisnis.com, JAKARTA

Pandai Besi Keluhkan Harga Plat Baja

Deru suara besi beradu dari sebuah gubuk kecil terdengar keras dari kejauhan.

Semakin mendekat, dua orang terlihat bergelut dengan panasnya bara dan baja yang masih berpijar dan berwarna merah menyala.

Deru suara besi beradu dari sebuah gubuk kecil terdengar keras dari kejauhan.

Semakin mendekat, dua orang terlihat bergelut dengan panasnya bara dan baja yang masih berpijar dan berwarna merah menyala.

Dua orang tersebut adalah Mustofiah (40) dan Hodirin (43) pandai besi dari Dukuh wonosari Desa Wonosari Kecamatan Bawang Kabupaten Batang.

Usai plat baja dipanaskan menggunakan bara dari arang kayu jati, kemudian dibentuk menyerupai sabit dengan cara dipukul menggunkan dua buah palu berukuran sedang.

Walaupun terbilang pekerjaan berat namun keduanya sudah melakoni pekerjaan menjadi pandai besi hampir 10 tahun.

Dan pekerjaan tersebut menjadi satu-satunya mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Diterangkan Mustofiah, ia sanggup menjual sekitar 100 sabit setiap bulannya ke beberapa pasar tradisional yang ada di Kabupaten Batang.

“Sebenarnya lumayan permintaan alat pertanian seperti sabit dan cangkul tidak pernah menurun, namun kendala kami di bahan pembuatan yaitu plat baja,” ujarnya, Senin (16/4/2018).

Ditambahkannya untuk mencari plat baja ia bersama sang suami harus pergi ke Wonosobo.

“Sampai wonosobo, perkilogramnya sekarang mencapai Rp 10 ribu kalau beberapa bulan lalu masih di kisaran Rp 6 ribu,” paparnya.

Sementara itu Hodirin menerangkan selain bahan baku untuk menjalankan usahanya ia membutuhkan arang jati yang kian lama kian sulit dicari.

“Arang jati sangat susah, kami mencari masih di daerah Batang, kalaupun ada paling hanya 10 kilogram, jadi ya harus terus mencari sampai ke daerah daerah,” imbuhnya.

Adapun untuk harga sabit Hodirin mematok harga Rp 30 ribu dan cangkul di kisaran Rp 400 ribu.

“Kami satu di antara 15 pandai besi yang ada di Dukuh Wonosari, rata-rata kesulitan mencari bahan baku dan arang untuk pembakaran,” kata Hodirin.

Sumber: TRIBUNJATENG.COM

 

Sekrup Tulang Antibakteri

Sekrup Tulang Antibakteri

14_fclamp3mm1

Lima mahasiswa Unair dari Jurusan Teknobiomedik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berhasil membuat inovasi penelitian sekrup tulang antibakteri.

Penelitian yang berjudul Biodegradable Bone Screw Anti-Bakteri Berbasis Komposit Nano Hidroksiapatit Poly (1,8 Octadienol-Co- Citrate) ini mendapat dana hibah dari Dirjen Dikti.

Selama ini, penanganan kasus patah tulang dengan melakukan fiksasi internal tulang menggunakan sekrup dan plat berbasis logam, yakni platina dan stainstess steel.

Penggunaan kedua bahan ini dinilai memiliki beberapa kendala. Salah satunya, meskipun logam platina memiliki sifat mekanik yang baik, harganya relatif mahal. Sementara, penggunaan stainless steel dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan korosi yang membahayakan tubuh.

Selain itu, metode ini dinilai kurang efektif karena sekrup dan plat yang digunakan harus diambil setelah tulang tersambung kembali. Pengambilan sekrup ini menyisakan lubang pada tulang dan biasanya menimbulkan masalah baru.

Ketua tim penelitian, Imroatus, menjelaskan, sekrup tersebut terbuat dari nanohidroksiapatit [Ca 10 (PO4) 6 (OH) 2 ] dan POC [Poly (1,8- octanediol-co- citrate)].

Material ini dipilih sebagai kandidat biodegradable bone screw karena POC memiliki sifat nontoksik, biokompatibel, biodegradable, sintesisnya relatif mudah, dan meningkatkan sifat mekanik.

Sedangkan nanohidroksiapatit berfungsi sebagai filler karena kompatibel terhadap jaringan tulang. Kemudian kitosan sebagai coating yang bersifat anti-bakteri melalui kelompok amino bermuatan positif yang mengikat muatan negatif membran bakteri.

Hasil dari karakterisari sekrup tulang ini memiliki kekerasan 1482,68 MPa, sehingga sudah di atas kekerasan tulang manusia yakni 150-664 MPa dan kekuatan tekan sebesar 8,14 MPa sesuai dengan kuat tekan tulang cancellous antara 2-12 MPa.

Melalui uji antibakteri, bahan kitosan sebagai coating ini ditemukan mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus di sekitar luka. ”Keunggulan dari sekrup ini di antaranya, biodegradable karena setelah tulang terfiksasi, sekrup akan terdegradasi dalam sistem metabolisme tubuh, sehingga tidak perlu dilakukan pengambilan kembali,” jelasnya melalui siaran pers, Selasa (14/6).

Ia berharap, proposal PKM tersebut bisa lolos PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ke-29 di IPB.

 

[Referensi: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/16/06/14/o8ra6q284-mahasiswa-unair-kembangkan-sekrup-tulang-antibakteri ]

Truk Penjual plat baja terguling di Tol Jakarta-Cikampek

Sebuah truk penjual plat baja yang terguling di KM20A dekat gerbang keluar Tol Tambun, Kabupaten Bekasi, telah dievakuasi petugas Jasa Marga Tol Jakarta-Cikampek pada Rabu (4/5).

“Evakuasi truk penjual plat baja tersebut kita lakukan dengan mengerahkan Patroli Jalan Raya, Patroli Jasa Marga, dan tim derek,” kata Humas PT Jasa Marga Jakarta-Cikampek Iwan Abrianto di Bekasi.

Truk ekspedisi penjual plat baja bernomor polisi B9357 itu pecah ban dan akhirnya terguling ketika tengah melaju dari arah Jakarta menuju Cikampek sekitar pukul 15.55 WIB. Kecelakaan itu mengakibatkan kemacetan sepanjang 5 kilometer di lintasan Jakarta mengarah ke Cikampek.

Kemacetan tersebut dikarenakan adanya peningkatan volume kendaraan sekitar 5 persen pada musim libur panjang Kenaikan Isa Almasih dan Isra Miraj 2016. Tim evakuasi kecelakaan lalu lintas dengan menggunakan truk derek dan forklift menggeser truk tersebut berikut muatannya dari lajur lambat menuju bahu jalan.

Namun, saat digeser petugas, truk penjual plat baja berbobot 8 ton itu mengalami patah as roda yang membuat muatannya berhamburan di badan jalan. “Saat ini posisi kendaraan sudah berada di bahu jalan dan situasi lalu lintas berangsur lancar,” katanya.

Pihaknya mencatat tidak ada korban luka maupun meninggal dunia dalam insiden itu. Kasus tersebut saat ini tengah ditangani pihak kepolisian setempat.

Alat Pengecatan Plat Baja Berbasis Android

Seperangkat alat pengecatan plat baja berbasis Android berhasil diciptakan oleh tiga mahasiswa Program Studi Teknik Otomasi Industri Politeknik TEDC Bandung. Para mahasiswa yang melakukan inovasi itu adalah Bayu Kurnia, Dery Daryusman, dan Tita Novita.

Alat pengecatan plat baja berbasis Android tersebut dipamerkan selama acara De Syukron 2015 yang berlangsung di halaman Gedung Sate, Kota Bandung.

Sebuah plat baja dengan ukuran 15×15 cm, 20×20 cm, 25×25 cm hanya membutuhkan waktu 6 menit untuk proses pengecatan dan keluar dalam keadaan kering dan siap dipergunakan.

Berikut ditampilkan video alat tersebut dibawah ini:

Sumber: jabar.tribunnews.com