Material Rongsokan jadi Pedang Bernilai Tinggi

IMG_20160516_104919

Mengoleksi sekaligus membuat pedang merupakan hobi yang jarang ditemui. Banyak di antara pecinta pedang yang hanya membeli dari pengrajin dan tinggal memajangnya di dinding rumah.

Namun tidak bagi Zudy Wahyu Praptono. Pria 36 tahun yang sejak lama menyukai pedang ini akhirnya memutuskan untuk membuat sendiri. Untuk pertama kalinya ia membuat pisau skinner atau pisau kecil yang digunakan untuk memisahkan daging dengan kulit hewan. Ketika di-upload di Facebook, pisau buatannya itu ternyata laku terjual.

Zudy memang aktif di beberapa grub di Facebook. Mulai dari Indonesia Katana Lovers, Indonesian Blades, Forum Bilah Indonesia, Jogja Flying Metal (JFM), Krambit Indonesia Punya, Forum Kapak dan Bilah, hingga Golok Tradisional Indonesia. Hampir semua pemesan merupakan rekan Zudy di grub-grub tersebut.

Saking banyaknya pemesan, akhirnya sekitar tiga tahun lalu Zudy memutuskan berhenti sebagai pengrajin perak. Ia memilih menekuni profesi sebagai pengrajin pedang.

Sudah banyak jenis pedang yang ia produksi di rumahnya di Gedongan RT 1/RW 1 No 15 Desa Purbayan, Kota Gede, Yogya. Seperti Kerambit Minangkabau, Kukri, berbagai pedang dari Jepang seperi Katana, Wakisasi, dan Tanto, dan masih banyak lagi.

Pria tiga anak ini sengaja memilih bahan baku baja seperti SKD11. Dibanding stainless 420J2 yang memang menawarkan tesktur halus serta mengkilap, baja skd11 dinilai lebih kuat meski lebih mudah berkarat.

“Biar tidak karatan tinggal dioles Virgin Coconut Oil (VCO) dua bulan sekali. Setelah itu pajang lagi,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, beberapa waktu lalu, dikutip dari Harianjogja, Selasa (7/3/2016) malam.

Uniknya, baja yang ia gunakan sebagian besar merupakan rongsokan berupa pir truk dan laher. Setiap 1kg rongsok ia beli seharga Rp7.000.

“Tapi kalau yang pesan ingin harganya tinggi dan bagus ya saya tidak berani pakai rongsok. Saya belikan pir baru. Harganya sekitar Rp200.000-Rp300.000,” kata Zudy yang pernah dijahit 14 di telapak tangannya karena terkena goresan pedang itu.

Rata-rata, pemesan menginginkan pedang sesuai budjet. Jika pemesan ingin kualitas bagus dan berani bayar mahal, Zudy membeli bahan baku yang baru. Jika pedang hanya untuk dipajang dan hanya ingin sekedar punya, bahan rongsok pun jadi pilihan. “Sama-sama kuat, asal jeli milihnya,” katanya.

Meski pengerjaan satu katana sampai satu minggu, namun keuntungan yang diperoleh cukup menjanjikan. “Bisa lebih dari 100 persen. Modal Katana Rp500.000, jualnya bisa Rp1,5 juta,” tuturnya. Sementara untuk Kerambit dijual sekitar Rp300.000 dan Kukri sekitar Rp700.000.

Dari proses penempaan, gerinda, Hardening Temper (HT) atau sepuh, sampai finishing, ia selalu mengutamakan ketelatenan. “Yang paling lama itu finishing-nya. Harus ngasah sampai tajam dan halus. Dan saya selalu mengutamakan sudut ketajaman yang presisi,” ujar pria penggemar ular ini.

Ia tidak ingin mengecewakan pelanggan yang datang dari berbagai daerah. Di Jogja sendiri, Majelis Mujahidin Bantul adalah salah satu pelanggannya. Zudy tak sekedar menjual pedang. Ia juga selektif terhadap konsumen yang ia layani. Mengingat senjata tajam, ia sengaja tidak melayani pemesan dari kalangan anak pelajar.

[Referensi: http://news.okezone.com/read/2016/03/08/510/1330724/ubah-rongsokan-jadi-pedang-mahal-bernilai-tinggi ]

Iklan